Thursday, 8 November 2012

Laporan Kimia Dasar I Pemisahan dan Pemurnian


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Air merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi makhluk hidup. Air merupakan suatu komponen krusial penentu kelangsungan hidup bagi seluruh makhluk bernyawa. Namun, semakin usia bumi ini yang berbanding lurus dengan pertambahan jumlah makhluk hidup terutama manusia mengakibatkan kurangnya sumber air di bumi ini terlebih dengan berkurangnya wadah penyimpanan air di alam seperti akar pohon dan tanah.
Keterbatasan sumber air ini diperparah dengan ketersediaan air yang ada, tidak layak pake lagi karena telah tercemar atau tercampur dengan zat lain. Air-air yang telah tecemar ini tidak dapat digunakan lagi. Untuk itu perlu adanya perlakuan pada air-air tercemar ini agar dapat digunakan lagi dengan memperoleh zat murninya. Cara yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan melepaskan zat yang mencemari air tersebut atau dengan memurnikannya. Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan jenis campuran atau jika memurnikan air kita dapat melihat jenis zat yang mencemari iar tersebut. Pentingnya pemisahan dan pemurnian inilah yang melatarbelakangi percobaan ini, sehingga kita dapat mengetahui berbagai cara pemisahan dan pelepasan larutan.
Selain itu, tidak hanya dapat dilakukan pada zat cair saja, namun juga dapat dilakukan pada campuran yang dibentuk oleh dua jenis zat padat. Dalam proses pemisahan dan pemurnian ini juga, kita dapat mempelajari berbagai jenis zat murni dan berbagai jenis zat campuran agar kita dapat melakukan metode pemisahan dan pemurnian yang tepat, sesuai dengan jenis campuran yang ada. Dengan adanya pengenalan pada proses pemisahan dan permurnian serta langsung dilakukan pada percobaan ini, diharapkan kita dapat mengatasi krisis air yang kini masih menjadi masalah besar dalam kehidupan sehari-hari kita dan kita dapat memahami tentang metode-metode pemisahan.

1.2.   Tujuan Percobaan
-        Mengetahui berbagai macam metode pemisahan dan pemurnian dalam suatu campuran yang telah tercemar.
-        Mengetahui prinsip-prinsip yang digunakan pada percobaan pemisahan dan percampuran.
-        Mengetahui penggolongan pada campuran.




BAB 2
TIJAUAN PUSTAKA

2.1.   Definisi dan Penggolongan Campuran
Campuran terbentuk dari dua zat atau lebih zat berlainan yang masihmempunyai sifat zat aslinya. Dalm kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai campuran. Misalnya air sungai, tanah, udara, makanan, minuman, dan lain-lain. Campuran dibagi menjadi dua yaitu :
a.             Campuran homogen
Campuran homogen adalah penggabungan 2 zat tunggal atau lebih yang semua partikelnya menyebar merata sehingga membentuk 1 fasa. Yang disebut 1 fasa adalah zat yang sifat komposisinya sama antara satu bagian dengan bagian yang lain didekatnya. Contohnya gula dan air, rasa manis air gula disemua bagian bejana sama, baik diatas , dibawah, maupun dipinggirnya. Karena begitu kecil dan meratanya partikel gula sehingga tidak dapat dilihat walaupun dengan mikroskop. (Syukri: 5, 1999)
b.            Campuran Heterogen
Campuran heterogen adalah penggabungan yang tidak merata antara 2 zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan yang lainnya tidak sama diberbagai bagian bejana. Contohnya campuran air dengan minyak tanah. Pada mulanya kedua zat tidak bercampur, tetapi setelah dikocok dengan kuat minyak meyebar dalam air berupa gelembung-gelembung kecil. Pada gelembung hanya terdapat minyak, sedangkan yang lain adalah air. Jadi minyak tidak menyebar merata seperti gula dan air. Dengan kata lain, dalam campuran heterogen masih ada bidang batas antara kedua komponen atau mengandung lebih dari 1 fasa. (Syukri S, 1999)
Untuk memisahkan campuran homogen maupun heterogen dapat dilakukan melalui proses pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur. Sedangkan pemurnian adalah suatu cara untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur oleh zat lain.
Campuran yang digunakan untuk pemisahan dan pemurnian dapat digolongkan menjadi 3, yaitu:
1.      Larutan
      Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan itu tampak homogeny (kontinue, tanpa bidang batas) dan mempunyai komposisi yang sama pada setiap bagiannya. Komponen-komponen yang terdapat dalam larutan tidak dapat dipisahkan melalui penyaringan. Sebagai contoh air dan gula.
      Larutan terdiri atas pelarut(solvent) dan zat terlarut(solute). Pada umumnya, komponen yang jumlahnya terbanyaklah yang dianggap sebagai pelarut. Misalnya sirup yaitu, campuran yang mengandung lebih banyak gula daripada air. Di samping itu, zat padat atau cairan larut dalam cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik menarik antar molekul (intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu terdapat gaya tarik di dalam molekul atau ion masih tetap bersatu.
      Larutan dapat berubah padatan,cairan,atau gas. Udara dan emas 22 karat juga tergolong larutan. diameter partikel larutan lebih kecil dari 1 nm.
2.      Koloid
      Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara campuran kasar dan larutan. secara makrokopis koloid tampak homogeny, tetapi sacara mikrokopis koloid bersifat heterogen. Oleh karena itu, koloid digolongkan kedalam campuran heterogen. Campuran koloid pada umumnya bersifat stabil dan tidak disaring. Ukuran partikel koloid terletak antara 1-100nm, berada diantara larutan dan larutan kasar atau suspense, sehingga masih cukup kecil untuk menembus kertas saring biasa, cukup besar untuk menembus membrane atau filter ultra. (Estien Yazid, 2005)
      Koloid umumnya keruh tetapi stabil(tidak memisah). Koloid dapat dibedakan dari larutan berdasarkan sifatnya tehadap cahaya. Larutan bersifat tranparan, sehingga berkas cahaya yang melalui larutan tidak dapat diamati dari samping (dari arah yang tegak lurus dengan arah berkas cahaya). Sedangkan koloid menhamburkan cahaya, sehingga berkas cahaya yang melalui kooid dapat dilihat dari samping. Contoh koloid yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah santan, air sabun, dan cat.
3.      Suspensi
      Suspensi adalah campuran kasar dan bersifat heterogen. Antar komponennya masih terdapat bidang batas dan sering kali dapat dibedakan tanpa menggunakan mikroskop. Setelah suspense biasanya dimasukan untuk campuran heterogen dari suatu zat padat dalam zat cair. Suspensi tampak keruh dan tidak stabil zat suspensi lamat laun akan terpisah karena gravitasi (mengalami sedimentasi). Suspensi dapat dipisahkan melalui penyaringan. Diameter partikel suspensi adalah lebih dari 100nm. Contoh campuran suspensi adalah campuran terigu atau kapur dengan air. (Chang Raymond. 2005)
2.2.   Metode Pemisahan Campuran
Terdapat banyak metode pemisahan campuran. Pemisahan campuran didasarkan pada perbedaan sifat pada campuran. Berbagai metode pemisahan diantaranya sebagai berikut :
a.       Pemisahan zat padat yang tidak larut dalam zat cair
1.      Dekantasi (pengendapan)
Dekantasi adalah pemisahan komponen-komponen campuran dengan cara diendapkan. Contohnya pengendapan pasir yang bercampur dengan air.
2.      Filtrasi (penyaringan)
Filtrasi adalah pemisahan komponen-komponen campuran dengan cara menggunakan alat penyaring. Contohnya pemisahan campuran bubuk kapur tulis dengan air menggunakan kertas saring. 
b.      Pemisahan zat padat yang larut dalam zat cair
1.      Penguapan
Pada penguapan, larutan dipanaskan hingga pelarutnya menguap dan meninggalkan zat terlarut.
2.      Kristalisasi
Kristalisasi adalah pemisahan komponen-komponen campuran dengan cara mengkristalkan komponen tercampur dengan cara dipanaskan kemudian didinginkan. Contohnya pembuatan Kristal garam
c.       Pemisahan zat padat dari zat padat
1.      Pelarutan yang dikuti dengan penyaringan  
melarutkan komponen-komponen yang ingin dipisahkan lalu dipanaskan hingga menguap.
2.      Kristalisasi bertingkat
Kristalisasi bertingkat sebenarnya adalah suatu proses kristalisasi
3.      Sublimasi
Sublimasi yaitu dua jenis padatan dengan menyublim dari komponen yang dapat menyublim dan komponen yang tidak dapat menyublim, yaitu senyawa yang pemanasanyya meleleh keudian mendidih, dan pada pendinginan dari uap langsung menjadi padatan.
d.      Pemisahan zat cair dari zat cair
1.      Ekstrasi Pelarut
Pemisahan campuran berdasarkan ekstasi berdasarkan perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda. campuran 2 komponen(misalkan A dan B) dimasukan kedalam X dan Y yang sebagai pelarut. Syaratnya kedua pelarut ini tidak dapat bercampur seperti air dan menyak. Semuanya dimasukan dalam corong pisah dan dikocok agar bercampur secara sempurna dan kemudian didiamkan sampai pelarut X dan Y memisah kembali. Kini zat A dan B berada dalam kedua pelarut X danY, tetapi perbandingannya tidak sama.misalkan A lebih banyak larut di X, sedangkan B lebih banyak di Y. akhirnya A dan B dipisahkan dengan membuka kran pada corong pisah perlahan-lahan dan ditampung pada bejana yang bersih. (Syukri S. ,1999)
2.3.   Prinsip dari Pemurnian dan Pemisahan Campuran
 Pemisahan dan pemurnian bertujuan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercampur atau tercemar. Zat atau materi dapat dipisahan dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasri pemisahan dan pemurniaan campuran. Berikut adalah beberapa prinsip yang digunakan dalam proses pemisahan dan pemurnian campuran.
1.      Perbedaan ukuran partikel
Jika ukuran partikel suatu zat yang didinginkan berbeda. dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur) dapat dipisahkan dengan metode penyaringan (filtrasi). Untuk keperluan ini harus menggunakan penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaring dan disebut hasil penyaringan dan zat pencampurnya akan terhalang yang disebut residu
2.      Perbedaan titik didih
Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki titik didih dapat melekukan metode sublimasi. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan lebih dulu menguap. Jika yang diinginkan adalah zat yang memiliki ttik didih rendah, maka selanjutnya mengembunkan uap dari zat tersebut dan mengalirkannya ke wadah tertentu. Jika yang diinginkan adalh zat yang memiliki titik didih yang tinggi maka cukup memanaskan campuran tersebut saja, sampai suhu mencapai titik didih zat yang kita cari.           
3.      Perbedaan massa jenis
Suhu pengendapan zat akan memiliki kecepatan mengendapkan yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memilki massa jenis lebih besar dari pada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda, maka daapt dilakukan pemisahan campuran tersebut dengan metode sedimentasi. Tapi jika dalam campuran tersebut terdapat lebih dari satu zat yang diinginkan, maka digunakan metode filtrasi.
4.      Adsorbsi
Adsorbsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organism.

5.      Absorbsi
Absorbsi merupakan suatu fenomena fisik atau kimiawi atau suatu proses penyerapan yang terjadi pada seluruh bagian permukaan.
6.      Perbedaan kelarutan
Suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tetapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut yang dibagi menjadi dua, yaitu pelarut polar dan pelerut non polar. Pelarut polar mudah terlarut pada pelarut polar dan senyawa olar mudah terlarut pada pelarut non polar. Dengan hal menggunakan perbedaan kelarutan didapatkan pemisahahn campuran dengan pelarut tertentu.
7.      Difusi
Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik beasr tegangan maupun kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil kearah tertentu untuk memperoleh zat murni. Metode pemisahan campuran dengan menggunakan bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu dikenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan zat berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat dilakukan dengan elektroforensis menggunakan suatu media agar yang disebut gel agarosa.



2.4.   Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Secara sadar atau tidak, dalam kehidupan sehri-hari banyak kegiatan yang berhubungan dengan proses pemisahan dan pemurnian. Sebagai contoh yang sederhana dalah ketika kita memisahkan antara ampas kelapa dengan santannya. Dengan menggunakan metode penyaringan (filtrasi), ampas kelapa akan tertahan pada alat saring dan santannya lolos dari alat saring.  




BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.   Alat dan Bahan
3.1.1.      Alat-alat
-          Sendok
-          Gelas kimia 100  ml
-          Corong gelas
-          Tabung reaksi
-          Corong pisah
-          Cawan penguap
-          Batang pengaduk
-          Gelas ukur
-          Penjepit tabung
-          Hot plate
-          Erlenmeyer

3.1.2.      Bahan – bahan
-          Pasir
-          Kertas saring
-          Akuades
-          Kapur tulis
-          Norit
-          Garam dapur
-          Naftalena
-          Sirup mangga
-          Minyak goring


3.2.   Prosedur Percobaan
3.2.1.     Dekantasi
-          Dimasukan 1 sendok pasir kedalam 50 ml akuades
-          Diaduk dengan batang pengaduk
-          Didiamkan
-          Diamati
-          Dituang fase cairnya
3.2.2.     Filtrasi
-          Dimasukan 1 sendok kapur tulis yang telah dihaluskan kedalam 50 ml akuades
-          Diaduk
-          Disaring dengan kertas saring dan corong kaca
3.2.3.     Adsorpsi
-          Dimasukan 1 sendok norit yan gtelah dihaluskan dalam kertas saring
-          Dialrkan sedikit demi sedikit sirup diatas corong kaca
-          Hasilya dimasukan kedalam tabung erlenmeyer
-          Diamati warna filtrasinya
3.2.4.     Kristalisasi
-          Dimasukan 1 sendok garam dapur kedalam gelas kimia yang telah diisi 100 ml akuades
-          Diaduk hingga larut
-          Dipanaskan hingga pelarutnya habis
-          diamati
3.2.5.     Sublimasi
-          Dimasukan naftalena dan garam dapur kedalam cawan penguap
-          Diaduk
-          Ditutup dengan kertas saring yang telah dilubangi kecil-kecil
-          Ditutup kembali dengan corong kaca yang disumbat lehernya
-          Dipanaskan lalu diamati
3.2.6.     Ekstrasi pelarut
-Dimasukan minyak goreng 50 ml kedalam corong pisah
-Ditambah 50 ml akuades
-Dikocok
-Didiamkan hingga keduanya terpisah
-Diamati
-Dibuang fase cair melalui kran corong pisah





BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil Pengamatan
No.
Perlakuan
Pengamatan
1.
Dekantasi
-    Dimasukkan 1 sendok pasir kedalam gelas kimia
-    Ditambah 50 ml akuades
-    Didiamkan
-    Diamati

-    Setelah diaduk akuades yang berwarna jernih menjadi keruh
-    Setelah didiamkan terjadi 2 fase. Fase atas zat cair (akuades) dan fase bawah zat padat (pasir).
2.
Filtrasi
-      Dimasukan 1 sendok kapur tulis yang telah dihaluskan
-      Ditambah 50 ml akuades
-      Diaduk
-      Disaring dengan kertas saring dan corong kaca

-    Setelah diaduk akuades menjadi keruh warna putih kapur
-    Tetapi setelah disaring kapur tertahan pada kertas saring sehingga akuades berwarna bening kembali.
3.
Adsorpsi
-    Dimasukan 1 sendok norit bubuk dalam kertas saring
-    Dialirkan sedikit demi sedikit sirup mangga diatas corong kaca
-    Diamati warna filtratnya

-    Sirup yang awalnya berwarna orange setelah disaring menggunakan kertas saring yang da noritnya, warna sirupnya berubah menjadi orange kekuning-kuningngan.
4.
Kristalisasi
-    Dimasukan 1 sendok garam dapur
-    Ditambah 10 ml akuades
-    Diaduk hingga larut
-    Dipanaskan hingga pelarutnya habis
-    diamati

-    setelah dipanaska garam yang tadinya larut dalam air (akuades) kini menjadi kristal kembali
-    Kristal gara yang dihasilkan lebih putih dan lebih halus
5.
Sublimasi
-    dimasukan naftalena dan garam dapur kedalam cawan penguap
-    diaduk
-    ditutup dengan corong kaca dengan posisi terbalik lalu lehernya disumbat tisu
-    dipanaskan
-    diamati

-    setelah dipanaskan naftalena berpindah keatas menempel pada dinding corong kaca
-    naftalena berubah menjadi Kristal-kristal kecil
6.
Ekstrasi Pelarut
-    dimasukan 50 ml minyak goreng kedalam corong pisah
-    ditambah 50 ml akuades
-    dikocok
-    didiamkan
-    diamati
-    dibuang fase cairnya melalui kran corong pisah

-    setelah dikocok minyak goreng tidak tercampur dengan akuades. Sehingga terjadi 2 fase. Fase atas minyak goreng dan fase bawah adalah air.
-    Setelah kran corong pisah dibuka, minyak kembali seperti semula.

4.2.  Pembahasan
       Campuran adalah suatu bahan yang terdiri atas satu atau lebih zat berlainan yang bergabung menjadi satu yang masih mempunyai sifat zat asalnya. Campuran dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : campuran homogeny dan campuran heterogen. Campuran homogeny adalah cmapuran yang zat-zat penyusunnya tidak tampak lagi dan tersebar secara merata, sedangkan campuran heterogen adalah campuran yang zat-zat penyusunnya masih tampak dan masih memiliki sifat asalnya.
       Pada praktikum kali ini terdapat 6 percobaan. Percobaan yang pertama adalah memisahkan campuran air dengan pasir. Pemisahan ini dilakukan dengan cara dekantasi. Dekantasi adalah cara memisahkan zat padat yang tidak larut dalam zat cair dengan cara diendapkan. Kita masukan pasir (solut) pada air (solven) lalu diaduk. Pengadukan ini berfungsi untuk menghomogenkan kedua zat tersebut. Setelah diaduk lalu didiamkan. Setelah didiamkan terbentuk 2 fase, fase atas akuades dan fase bawah adalah tanah. Prinsip pada percobaan ini adalah massa jenis. Massa jenis pasir lebih besar daripada massa jenis air, sehingga pasir berada dibawah dan air berada diatas. Setelah pasir benar-benar mengendap tuang cairan bagian atas. Lakukan penuangan dengan hati-hati. Karena jika tidak hati-hati maka tanah yang mengendap akan ikut tertuang.
       Pada percobaan kedua adalah pemisahan kapur tulis dengan akuades dilakukan dengan cara filtrasi. Filtrasi adalah cara pemisahan zat padat yang tidak larut dalam zat cair dengan cara peyaringan. Kapur tulis(solute) yang telah dihaluskan dicampur dengan akuades(solven) lalu disring dengan kartas saring yang diletakkan diatas corong kaca. Kertas saring berfungsi sebagai penyaring(filter) dan didapatkan hasilnya kapur tulis sabagai residu yang tertahab pada kertas saring dan akuades sebagai filtrate percobaab ini menggunakan prinsip ukurang partikel. Ukuran partikel kapur tulis lebih besar daripada ukuran partikel akuades sehinnga kapur tulis tertahan pada kertas saring.
       Pembahasan pada percobaan ketiga adsorbsi. Penyerapan dibagi menjadi 2, yaitu: adsorbs dan absorbs. Adsorbs adalah penyerapan yang terjadi pada bagian permukaan moleku. Sedangkan absorb  si adalah penyerapan yang terjadi pada seluruh bagian. Pada percobaan ketiga kita akan melakukan adsorbs sirup mangga dengan norit. Letakkan norit diatas corong kaca yang telah dilapisi kertas saring. setelah dilakukan penyaringan sirup yang tadinya berwarna orange menjadi lebih pudar warnanya. Norit bertindak sebagai adsorben dan sirup sebagai larutan sampel.
       Percobaan keempat adalah memisahkan garam dapur (solute) dengan akuades (solven). Pemisahan larutan ini dengan cara kristalisasi. Kristalisasi adalah pemisahan zat padat yang larut dalam zat cair dengan mengkristalkan komponen-kompenen tercampur dengan cara dipanaskan lalu didinginkan. Pemanasan berfungsi untuk menguapkan zat cair. Percobaan kristalisasi berdasrkan titik didih. Percobaan ini dilakukan denga cara dipanaskan. Dipanaskan ini agar air dapat menguap sehingga terbentuk butiran-butiran kriastal karena larutan menjadi pekat. Jika pada saat pemanasan tekanan pemanas terlalu besar maka larutan akan meletup-letup. Oleh karena itu saat melakukan parcobaan ini,tekanan pemanas harus tepat.
       Percobaan kelima adalah memisahkan campuran antara naftalena dan garam dapur. Naftalena memiliki struktur
Percobaan ini menggunakan cara sublimas. Sublimasi adalah pemisahan zat padat dari zat padat, dengan cara memisahan zat-zat dalam campuran yang mudah menyublim melalui pemanasan. Naftalena yang tercampur dengan garam pada cawan penguap ditutup dengan kertas saring yang telah dilubangi kecil-kecil menggunakan jarum. Lalu ditutup kembali menggunakan corong kaca dengan posisi terbalik yang ujungnya disumbat dengan tisu. Kemudian dipanaskan hingga naftalena berubah menjadi gas dan berubah menjadi padat kembali setelah melalui proses pendinginan tanpa menjadi air terlebih dahulu. Percobaan ini menggunkan prinsip titik didih. Titik didih naftalena lebih rendah daripada titik didih garam dapur sehingga naftalena lah yang menempel pada dinding corong kaca.
       Percobaan yang keenam atau yang terakhir adalah pemisahan minyak goreng dengan air. Minyak goring memiliki struktur
Pemisahan ini dilakukan dengan cara ekstraksi pelarut. Ekstraksi pelarut adalah pemisahan zat cair dari zat cair dengan bantuan pelarut tertentu yang memiliki kepolaran yang berbeda. Percobaan ini menggunakan prinsip kepolaran. Minyak dan air tidak dapat bercampur karena air bersifat polar artinya senyawa yang memiliki keelektronegatifan yang jauh berbeda antara atom penyusunnya. Sedangkan minyak bersifat non polar, minyak memiliki perbedaan keelektronegatifan yang relative kecil atau bahkan nol. Setelah dikocok air sedikit keruh karena sedikit tercampur dengan minyak. Setelah didiamkan terdapat dua fase air berada dibawah dan minyang berada diatas. Hal ini terjadi karena massa jenis air lebih besar daripada massa jenis minyak goreng.
       Fungsi perlakuan diaduk agar larutan menjadi homogen atau tercampur. Biasanya setelah diaduk larutan didiamkan agar dapat dengan mudah diamati. Selain itu pada percobaan ini juga terdapat penyaringan, penyaringan ini berfungsi agar residu tertahan pada penyaring dan kita mendapatkan filtranya.
       Secara sadar atau tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari kita banyak kegiatan berhubungan dengan proses pemisahan dan pemurnian sebagai contoh yang sederhana adalah ketika memisahkan antara ampas kelapa dengan santannya. Dengan menggunakn metode penyaringan ampas kelapa akan tetahan pada alat penyaring dan santannya dapat lolos dari saringan. Bukan hanya itu saja aplikasi pemisahan dan pemurnian dalam kehidupan sehari-hari ada juga yang lainnya seperti pembuatan garam yang menggunakan metode kristaliasi, pembuatan minyak kayu putih juga menggunakan metode pemisahan dan pemurnian.




BAB 5
PENUTUP

5.1.   Kesimpulan
-          Ada beberapa metode dalam pemisahan dan pemurnian antara lain:
a.       Dekantasi adalah pemisahan zat padat dan zat cair yang tidak saling larut dengan cara pengendapan.
b.      Filtrasi adalah pemisahan zat padat dari zt cair yang tidak saling larut dengan menggunakan filter (penyaring)
c.       Adsorbsi adalah suatu proses pemisahan dengan cara bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh permukaan adsorben.
d.      Kristalisasi adalah pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara mengkristalkan komponen tercampur dengan cara dipanaskan lalu didinginkan.
e.       Sublimasi adalah pemisahan padatan dari suatu campuran berbentuk padatan dengan cara penguapan.
f.       Ekstraksi pelarut adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan melarutkan zat itu pada pelarut yang sesuai.
-          Ada beberapa prinsip yang digunakan pada percobaan ini antara lain : dekantasi menggunakan prinsip perbedaan massa jenis, filtrasi menggunakan prinsip perbedaan ukuran partikel, kristalisasi menggunakan prinsip perbedaan titik didih, dan sublimasi juga menggunakan perbedaan titik didih.
-          Ada 2 macam campuran, yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Contoh campuran homogen seperti campuran air dan gula. Sedangkan contoh campuran heterogen seperti pada campuran minyak dan air.


5.2.   Saran 
        Dalam proses pemisahan dan pemurnian dengan metode filtrasi untuk mendapatkan hasil (filtrat) yang baik, maka gunakanlah penampang kertas yang kecil. 






DAFTAR PUSTAKA

Caenan, Dkk. 1999. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar. Bogor: Erlangga
S. Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB
Yazid, estien. 2005. Kimia Fisik untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi

1 comment: